"SEKALI LAYAR TERKEMBANG, SURUT KITA BERPANTANG"
Alhamdulillah, dengan mengucap syukur kepada Allah SWT, kegiatan Acara Pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) Pemuda Pancasila Kecamatan Patikraja, yang dilaksanakan di Aula Balai Desa Patikraja pada hari minggu, 10 Februari 2013 dapat terlaksana dengan lancar.
Atas partisipasi dari kanca-sedulur "Patikraja Guyub" yang ada di Jakarta, serta semua pihak yang sudah andil dalam suksesnya acara tersebut, saya atas nama Panitia Penyelenggara mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.
SUSUNAN PENGURUS ANAK CABANG PEMUDA PANCASILA KECAMATAN PATIKRAJA :
Majelis Penasehat :
- Nugroho Adi Wibowo S.Pd.
- Drs. Aliudin
Ketua Umum :
- Pramoko (Papang)
Ketua I :
- Eko Widhiarto
Ketua II :
- Junaedi
Sekretaris I :
- Hutama Yudyadi
Sekretaris II :
- Budiharto
Bendahara I :
- Edy Suryanto
Bendahara II :
- Dudu
Kabid Organisasi & Kaderisasi :
- Heri PM
- Rasimun
- Sungkono
Kabid Srikandi :
- Tini Artini
- Siti Nur Khotijah
- Nurbaeti
Kabid Satma :
- Suswandi
- Sono
- Yanto
Kabid LBH :
- Daryono, SH
- Narko
- Radikin
Kabid Usaha :
- Kuat Raharjo
- Aim Supangat
- Warso
Kabid KOTI :
- Arif Wibowo
- Rohmadi
- Awang
- Supriyanto
SUSUNAN PANITIA PENYELENGGARA :
Ketua :
- Junaedi
Wakil Ketua :
- Eko Widhiarto
Sekretaris :
- Hutama Yudyadi
Bendahara :
Edy Suryanto
Seksi Humas :
- Awang
- Budiharto
Seksi Tempat :
- Dodo
Seksi Keamanan :
- Arif Wibowo
Seksi Acara :
- Heri PM
Seksi Umum :
- Warso
Seksi Konsumsi :
- Nur Baedah
- Nurbaeti
Minggu, 10 Februari 2013
Kamis, 10 Januari 2013
K O P I
Seminar Kopi Nasional di FKM-UI, Depok
Di bawah sampai ujung tangga, sekitar 300 orang lebih menyemut untuk berantri masuk ke dalam aula. Lamat-lamat barisan maju selangkah demi selangkah seiring satu per satu semutan orang itu berkurang. Orang yang berhasil menyelesaikan antrian terlihat menenteng gelas kertas berisi minuman kopi di tangan, di bahu tersandang goodie bag, disela ketiak terimpit kertas; ada juga yang menenteng goodie bag dan kertas di satu tangan, tangan yang satu memegang gelas kertas. Beberapa orang yang melewati antrian tidak segera masuk ke dalam gedung, alih-alih menanti teman. Sebagian berhenti untuk membaca kertas yang didapatkan sembari menyeruput kopi dari gelas yang didapatkan secara cuma-cuma setelah mendaftar kehadiran. Di pagar pembatas lantai dua terlihat spanduk bertuliskan: Seminar Ilmiah “Kopi, Ternyata Sehat? Antioksidan di balik Kafein”.
Kamis siang itu, 03 November 2011, sekelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, menyelanggarakan seminar ilmiah bertemakan kopi. Seminar ini menjawab tantangan akan perubahan disposisi gaya hidup dan identitas kultural masyarakat urban dalam mengonsumsi kopi, selain soal aspek kesehatan yang mencuat ke permukaan seiring maraknya konsumsi kopi di tengah masyarakat. Dua hal yang gencar dijadikan buah bibir terkait isu kesehatan dari konsumsi kopi adalah soal: 1) kafein; dan 2) antioksidan. Berbagai pendapat pro dan kontra mengenai kafein kopi berseliweran di media massa dan menjadi berita selentingan di tengah masyarakat. Begitu juga dengan soal antioksidan. Benarkah mengonsumsi kopi itu aman bagi kesehatan? Benarkah kandungan senyawa kopi sangat bermanfaat sebagai antioksidan untuk raga manusia? Bagaimana perubahan gaya hidup dalam konteks konsumsi kopi itu terjadi? Hal-hal semacam itu yang hendak dijawab oleh seminar ini.
Seminar ini menghadirkan satu praktisi, Hardiansyah Suteja dari Philocoffee Project, dan satu akademisi, Prof. Fransiska R. Zakaria, dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Seminar dimoderatori oleh salah satu finalis Putri Kopi 2011, Suci Rahmadhany. Pada sesi pertama, Suteja mempresentasikan transformasi disposisi konsumsi dan identitas kultural dari pendekatan sosiologi. Selain itu, Suteja juga menyinggung soal kedai kopi sebagai pranata sosial. Menurut Suteja, sejak awal kedai kopi memang selalu menjadi lokus sosial masyarakat. Hal semacam itu tidak hanya ditemukan di Eropa dan Amerika saja, tapi juga di kawasan Asia.
Sementara itu, pada sesi kedua, Prof. Fransiska meninjau kandungan senyawa dari kopi dan membahasnya dari segi kesehatan berdasarkan perkembangan riset mutakhir. Menurut Prof. Fransiska, di kalangan peneliti itu sendiri, dampak kafein kopi bagi kesehatan masih menjadi perdebatan yang tak kunjung usai. Yang menarik, Prof. Fransiska juga memaparkan kopi sebagai panasea dari tradisi pengobatan China. Lalu, dia membandingkannya dengan hasil mutakhir. Dia juga menyinggung bahwa secara umum penelitian dampak kopi bagi kesehatan mengabaikan faktor lain, seperti olah raga, misalnya. Dengan demikian, seseorang yang kesehatannya terganggu karena kafein, perlu dilihat pola hidupnya. Apakah orang tersebut rutin berolah raga dan apakah secara psikis sedang tidak stress dan sebagainya. Hemat kata, menurut professor tersebut, konsumsi kopi sebanyak 2 sampai 3 gelas tidaklah bermasalah, alih-alih malah memberikan stimulus yang positif bagi tubuh.
Acara ini terbilang sukses mengingat dihadiri 300 orang lebih dan banyak para peserta yang mengajukan pertanyaan lebih dari 1 pertanyaan. Ke depan, tampaknya kegiatan serupa akan sering diadakan di berbagai kampus seturut dengan meningkatnya konsumsi kopi di masyarakat. Dan mahasiswa FKM-UI ini telah melakukannya.[]
Bisa uga dewaca nang kéné > KOPI
*****
Di bawah sampai ujung tangga, sekitar 300 orang lebih menyemut untuk berantri masuk ke dalam aula. Lamat-lamat barisan maju selangkah demi selangkah seiring satu per satu semutan orang itu berkurang. Orang yang berhasil menyelesaikan antrian terlihat menenteng gelas kertas berisi minuman kopi di tangan, di bahu tersandang goodie bag, disela ketiak terimpit kertas; ada juga yang menenteng goodie bag dan kertas di satu tangan, tangan yang satu memegang gelas kertas. Beberapa orang yang melewati antrian tidak segera masuk ke dalam gedung, alih-alih menanti teman. Sebagian berhenti untuk membaca kertas yang didapatkan sembari menyeruput kopi dari gelas yang didapatkan secara cuma-cuma setelah mendaftar kehadiran. Di pagar pembatas lantai dua terlihat spanduk bertuliskan: Seminar Ilmiah “Kopi, Ternyata Sehat? Antioksidan di balik Kafein”.
Kamis siang itu, 03 November 2011, sekelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok, menyelanggarakan seminar ilmiah bertemakan kopi. Seminar ini menjawab tantangan akan perubahan disposisi gaya hidup dan identitas kultural masyarakat urban dalam mengonsumsi kopi, selain soal aspek kesehatan yang mencuat ke permukaan seiring maraknya konsumsi kopi di tengah masyarakat. Dua hal yang gencar dijadikan buah bibir terkait isu kesehatan dari konsumsi kopi adalah soal: 1) kafein; dan 2) antioksidan. Berbagai pendapat pro dan kontra mengenai kafein kopi berseliweran di media massa dan menjadi berita selentingan di tengah masyarakat. Begitu juga dengan soal antioksidan. Benarkah mengonsumsi kopi itu aman bagi kesehatan? Benarkah kandungan senyawa kopi sangat bermanfaat sebagai antioksidan untuk raga manusia? Bagaimana perubahan gaya hidup dalam konteks konsumsi kopi itu terjadi? Hal-hal semacam itu yang hendak dijawab oleh seminar ini.
Seminar ini menghadirkan satu praktisi, Hardiansyah Suteja dari Philocoffee Project, dan satu akademisi, Prof. Fransiska R. Zakaria, dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Seminar dimoderatori oleh salah satu finalis Putri Kopi 2011, Suci Rahmadhany. Pada sesi pertama, Suteja mempresentasikan transformasi disposisi konsumsi dan identitas kultural dari pendekatan sosiologi. Selain itu, Suteja juga menyinggung soal kedai kopi sebagai pranata sosial. Menurut Suteja, sejak awal kedai kopi memang selalu menjadi lokus sosial masyarakat. Hal semacam itu tidak hanya ditemukan di Eropa dan Amerika saja, tapi juga di kawasan Asia.
Sementara itu, pada sesi kedua, Prof. Fransiska meninjau kandungan senyawa dari kopi dan membahasnya dari segi kesehatan berdasarkan perkembangan riset mutakhir. Menurut Prof. Fransiska, di kalangan peneliti itu sendiri, dampak kafein kopi bagi kesehatan masih menjadi perdebatan yang tak kunjung usai. Yang menarik, Prof. Fransiska juga memaparkan kopi sebagai panasea dari tradisi pengobatan China. Lalu, dia membandingkannya dengan hasil mutakhir. Dia juga menyinggung bahwa secara umum penelitian dampak kopi bagi kesehatan mengabaikan faktor lain, seperti olah raga, misalnya. Dengan demikian, seseorang yang kesehatannya terganggu karena kafein, perlu dilihat pola hidupnya. Apakah orang tersebut rutin berolah raga dan apakah secara psikis sedang tidak stress dan sebagainya. Hemat kata, menurut professor tersebut, konsumsi kopi sebanyak 2 sampai 3 gelas tidaklah bermasalah, alih-alih malah memberikan stimulus yang positif bagi tubuh.
Acara ini terbilang sukses mengingat dihadiri 300 orang lebih dan banyak para peserta yang mengajukan pertanyaan lebih dari 1 pertanyaan. Ke depan, tampaknya kegiatan serupa akan sering diadakan di berbagai kampus seturut dengan meningkatnya konsumsi kopi di masyarakat. Dan mahasiswa FKM-UI ini telah melakukannya.[]
Bisa uga dewaca nang kéné > KOPI
*****
Sabtu, 08 Desember 2012
PATIKRAJA (1902 - 1915)
Rebo tgl.28 April 2010, nyong njajal browsing maring
(http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28), terus
jajal tek search kata kunciné "Patikradja". Nang kono nyong nemu
photo2 jaman kuna (ana 6 photo) ngenani kahanan Patikraja jaman semono (Taun
1902).
Merga nemuné mung semono kuwé, ya kiyé tek bagi2 maring rika
pada sedulur2-é nyong se-Kecamatan Patikraja se-Kabupaten Banyumas, muga2 kena
nggo delengan. Angger kepéngin nggenahna bab photo2 kiyé, utamané keterangan
photo2 sing nganggo basa Landa, jajal takon maring Ninié utawa Kakiné rika,
mbok sinawa ésih kémutan lan bisa nyritakna lokasiné sing sebeneré, lan bisa
ngartikna basa Landa-né. ;)
Angger sedulur2 arep pada golét photo2 liya, apa baé lah... ya
mangga de golét nang website sing nang ndhuwur kaé. Nyong njajal search
"Banjoemas", ya akéh banget isiné... Jajal mengko ari nyong ésih
kober, arep tek donlud maning.
Mangga lur di pirsani :
Collectie: KITLV
Beschrijving/Description: Tabaksonderneming Patik Radja te
Banjoemas
Albumtitel: Souvenir onderneming Patik Radja, ca. 1902
Trefwoord/Keyword:
Banyumas,personnel,plantations,tobacco,Jawa Tengah,Indonesia
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1902
Herkomst/Provenance: Voskuil, R.P.G.A. / Oosterbeek
Collectie: KITLV
Beschrijving/Description: Personeel van de tabaksonderneming
Patik Radja te Banjoemas
Albumtitel: Souvenir onderneming Patik Radja, ca. 1902
Trefwoord/Keyword: Banyumas,personnel,plantations,tobacco,Jawa
Tengah,Indonesia
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1902
Herkomst/Provenance: Voskuil, R.P.G.A. / Oosterbeek
Collectie: KITLV
Beschrijving/Description: Personeel van de tabaksonderneming
Patik Radja te Banjoemas
Albumtitel: Souvenir onderneming Patik Radja, ca. 1902
Trefwoord/Keyword:
Banyumas,houses,personnel,plantations,tobacco,Jawa Tengah,Indonesia
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1902
Herkomst/Provenance: Voskuil, R.P.G.A. / Oosterbeek
Collectie: KITLV
Beschrijving/Description: Tabaksonderneming Patik Radja te
Banjoemas
Albumtitel: Souvenir onderneming Patik Radja, ca. 1902
Trefwoord/Keyword: Banyumas,plantations,tobacco,Jawa
Tengah,Indonesia
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1902
Herkomst/Provenance: Voskuil, R.P.G.A. / Oosterbeek
Collectie: KITLV
Beschrijving/Description: Woonhuis van de tabaksonderneming
Patik Radja te Banjoemas
Albumtitel: Souvenir onderneming Patik Radja, ca. 1902
Trefwoord/Keyword: Banyumas,houses,plantations,tobacco,Jawa
Tengah,Indonesia
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1902
Herkomst/Provenance: Voskuil, R.P.G.A. / Oosterbeek
Collectie: KITLV
Beschrijving/Description: Woonhuis van de tabaksonderneming
Patik Radja te Banjoemas
Albumtitel: Souvenir onderneming Patik Radja, ca. 1902
Formaat/Size: 21x27cm
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1902
Herkomst/Provenance: Voskuil, R.P.G.A. / Oosterbeek
Collectie: KITLV
Beschrijving/Description: Tabaksonderneming Patik Radja te
Banjoemas
Albumtitel: Souvenir onderneming Patik Radja, ca. 1902
Trefwoord/Keyword: Banyumas,plantations,tobacco,Jawa
Tengah,Indonesia
Formaat/Size: 21x27cm
Datumaanduiding/Date information: Circa
Datum/Date: 1902
Herkomst/Provenance: Voskuil, R.P.G.A. / Oosterbeek
*****
Kuwé ndhuwur foto jaman agi dong mbangun Brug Kali Serayu Patikraja -
Mandirancan :
Spoiler for pembangunan jembatan sungai serayu Patikraja -
Mandirancan (Nyong urung nemu Taun'é)
Lha kiyé ngisor Brug'é taun 2009 :
*****
(1914-1915) Jaman agi dong mbangun Ril Sepur karo Trowongan
Kalirajut - Notog :
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
Nederlands: negatief. Een verongelukte jeep langs de kant
van de weg bij Notog, 21 April 1948.
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
English: Railway subway under constructions.
Nederlands: Foto is gemaakt tijdens de aanleg van de
Staatsspoorwegen spoorlijn Chirebon - Kroja. Spoorwegtunnel in aanbouw
Lhaa, kiyé ngisor Taun 2009, Trowongané ésih wutuh alias
ajeg yah...
Pancén bangunan kuna utawa wangkring kuna atos2 lan kuat2, ora
mung jéré-jéré, heheheee...
Maturnuwun kanggo sedulur2 sing wis kober mriksani lan maca
artikel nang ndhuwur, muga-muga migunani lan ana manfaaté kanggo sedulur kabéh,
kelilan...
*****
SEPUTAR PATIKRAJA JAMAN DULU
Semakin banyak pertumbuhan onderneming atau perkebunan dan
industri serta perdagangan, ditambah lagi pekerjaan administrasi pada
kantor-kantor pemerintah kolonial Belanda, maka sangat banyak membutuhkan
tenaga yang memiliki kecakapan baca tulis dan hitung. Para sinyo (pemuda)
bangsa Belanda jarang yang mau bekerja sebagai karyawan pabrik atau perkebunan.
Juga untuk mengurus daerah tingkat desa juga harus dikelola mengenai data
kependudukan dan aspek-aspek kehidupan lainnya, yang membutuhkan warga pribumi pula.
Sejalan dengan politik balas budi dalam bidang edukasi atau pendidikan. Maka pemerintah kolonial Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah. Semula mendirikan sekolah rakyat sampai kelas V, dimana di kelas IV dan V diajarkan bahasa Belanda. Di wilayah asistenan Patikraja SR V yang ada baru di Rawalo dan Notog saja. Muridnya baru dari kalangan anak-anak pamong desa dan para priyayi pribumi serta kerabat pamong desa yang mampu. Tamatan kelas V umumnya dipekerjakan atau menjadi pegawai Belanda di tingkat asistenan atau tingkat kabupaten, yang jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan tenaga kerja yang diharapkan. Untuk itulah pemerintah kolonial tfelanda membuka sekolah didesa-desa yang hanya sampai kelas III. Tamatan dari sekolah desa ini dijadikan pegawai desa sebagai carik, tukang ukur dan mandor perkebunan. Sekolah rakyat yang kelas V biasa disebut sekolah angka dua.
Kenyataannya yang mau sekolah hanya mereka yang mempunyai rasa malu, yaitu mereka yang harus mengenakan baju dan kain.celana. Untuk memudahkan cara mengharuskan anak-anak masuk sekolah. Ada cara unik. Yaitu apabila seorang anak , sudah dapat menggapai sampai ujung daun telinga sebelah kiri dengan melingkarkan tangan kanannya di atas kepala, menandakan bahwa anak tersebut sudah masanya masuk sekolah.
Bagi yang mampu banyak yang melanjutkam sekolahnya ke Purwokerto kebanyakan masuk ke sekolah swasta. Karena sekolah Belanda tidak mudah memasukkan anak-anak dari kalangan rakyat biasa. Setidaknya harus anak-anak pegawai Belanda atau anak Asistenan dan anak para Mantri, yaitu orang pribumi yang bekerja pada Kantor Pemerintah.
Di Purwokerto baru ada sekolah untuk sinyo-sinyo Belanda yaitu HS (sekolah rendah Belanda), MULO setara dengan SMP untuk sinyo-sinyo dan Normal School yaitu Sekolah Guru yang berasal dari SR ditambah 1 tahun lagi. VO (Vervoiles Ondeways) yaitu kursus guru kilat yang menamatkan Guru Bantu (guru Kwikling) dan OVO (diatas VO). Selain itu ada juga sekolah yang didirikan untuk anak-anak perempuan yang naik kelas 4 untuk diberi pelajaran kewanitaan sesuai dengan emansipasi wanita yang dipelopori oleh R.A Kartini, yaitu sekolah kartini. Dari tokoh pendidikan juga menyelenggarakan sekolah swasta untuk menampung minat anak-anak yang tidak dapat diterima pada sekolah Belanda antara lain Arjuna School (SLTP), Taman Dewasa, Mambaul ulum (setara dengan MadrasahTsanawiyah).
Sejalan dengan politik balas budi dalam bidang edukasi atau pendidikan. Maka pemerintah kolonial Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah. Semula mendirikan sekolah rakyat sampai kelas V, dimana di kelas IV dan V diajarkan bahasa Belanda. Di wilayah asistenan Patikraja SR V yang ada baru di Rawalo dan Notog saja. Muridnya baru dari kalangan anak-anak pamong desa dan para priyayi pribumi serta kerabat pamong desa yang mampu. Tamatan kelas V umumnya dipekerjakan atau menjadi pegawai Belanda di tingkat asistenan atau tingkat kabupaten, yang jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan tenaga kerja yang diharapkan. Untuk itulah pemerintah kolonial tfelanda membuka sekolah didesa-desa yang hanya sampai kelas III. Tamatan dari sekolah desa ini dijadikan pegawai desa sebagai carik, tukang ukur dan mandor perkebunan. Sekolah rakyat yang kelas V biasa disebut sekolah angka dua.
Sekolah rakyat kelas
III yang berada di desa disebut sekolah desa. Yang ada sekolah desa ialah :
Patikraja, Sidabowa, Pegalongan, Kedungwuluh Kidul, Sawangan, Teluk saja. Lain
desa belum semuanya ada. Muridnya dicari secara aktif yang dilakukan oleh pamong
desa setempat. Umumnya anak-anak desa tidak mau bersekolah, karena segan atau
takut kepada orang Belanda dan lagi umumnya membantu pekerjaan orang tua
sehari-harinya. Ada yang menggembala ternak, mencari kayu bakar, merumput,
mengasuh adik-adiknya sementara orang tuanya bekerja di sawah atau mencari
nafkah lainnya.
Karena keuletan para pamong desa dengan cara yang menarik, antara lain segala alat tulis menulis akan diberi misalnya sabak yaitu alat untuk ditulisi dibuat dari batu yang tipis berbingkai selebar 44 x 60 cm, dan grip yaitu alat untuk menulis pengganti pensil dibuat dari batu pula. Kebetulan setiap tahun ajaran baru jatuh pada bulan Syawal sehabis hari raya Idul Fitri tadi. Sehingga anak-anak yang berumur diatas 6 th bisa sekolah dengan berbusana lengkap. Anak laki-laki memakai jas atau baju cina bercelana kolor pendek. Kepalanya dicukur gundul. Dengan motifasi kepala gundul apalagi dahinya mengkilap menandakan bahwa anak/murid tadi anak cerdas atau pandai di kelasnya. Bagi anak wanita mengenakan kain setinggi lutut bagi yang masih kecil dan setinggi mata kaki bagi yang dewasa, berbaju kebaya bagi gadis dewasa dan kebaya kuthung bagi yang masih kecil.
Karena keuletan para pamong desa dengan cara yang menarik, antara lain segala alat tulis menulis akan diberi misalnya sabak yaitu alat untuk ditulisi dibuat dari batu yang tipis berbingkai selebar 44 x 60 cm, dan grip yaitu alat untuk menulis pengganti pensil dibuat dari batu pula. Kebetulan setiap tahun ajaran baru jatuh pada bulan Syawal sehabis hari raya Idul Fitri tadi. Sehingga anak-anak yang berumur diatas 6 th bisa sekolah dengan berbusana lengkap. Anak laki-laki memakai jas atau baju cina bercelana kolor pendek. Kepalanya dicukur gundul. Dengan motifasi kepala gundul apalagi dahinya mengkilap menandakan bahwa anak/murid tadi anak cerdas atau pandai di kelasnya. Bagi anak wanita mengenakan kain setinggi lutut bagi yang masih kecil dan setinggi mata kaki bagi yang dewasa, berbaju kebaya bagi gadis dewasa dan kebaya kuthung bagi yang masih kecil.
Kenyataannya yang mau sekolah hanya mereka yang mempunyai rasa malu, yaitu mereka yang harus mengenakan baju dan kain.celana. Untuk memudahkan cara mengharuskan anak-anak masuk sekolah. Ada cara unik. Yaitu apabila seorang anak , sudah dapat menggapai sampai ujung daun telinga sebelah kiri dengan melingkarkan tangan kanannya di atas kepala, menandakan bahwa anak tersebut sudah masanya masuk sekolah.
Bagi yang mampu banyak yang melanjutkam sekolahnya ke Purwokerto kebanyakan masuk ke sekolah swasta. Karena sekolah Belanda tidak mudah memasukkan anak-anak dari kalangan rakyat biasa. Setidaknya harus anak-anak pegawai Belanda atau anak Asistenan dan anak para Mantri, yaitu orang pribumi yang bekerja pada Kantor Pemerintah.
Di Purwokerto baru ada sekolah untuk sinyo-sinyo Belanda yaitu HS (sekolah rendah Belanda), MULO setara dengan SMP untuk sinyo-sinyo dan Normal School yaitu Sekolah Guru yang berasal dari SR ditambah 1 tahun lagi. VO (Vervoiles Ondeways) yaitu kursus guru kilat yang menamatkan Guru Bantu (guru Kwikling) dan OVO (diatas VO). Selain itu ada juga sekolah yang didirikan untuk anak-anak perempuan yang naik kelas 4 untuk diberi pelajaran kewanitaan sesuai dengan emansipasi wanita yang dipelopori oleh R.A Kartini, yaitu sekolah kartini. Dari tokoh pendidikan juga menyelenggarakan sekolah swasta untuk menampung minat anak-anak yang tidak dapat diterima pada sekolah Belanda antara lain Arjuna School (SLTP), Taman Dewasa, Mambaul ulum (setara dengan MadrasahTsanawiyah).
Para pendahulu kita yang menuntut ilmu pada sekolah Belanda dan sekolah swasta
hampir di setiap desa dalam wilayah Asistenan Patikraja ada tokoh-tokoh, antara
lain :
1. DARI KALANGAN PENDIDIK/GURU
Desa Notog :
Bpk. Sukardi Joyowidagdo, pensiun zaman Belanda.
Bpk. Kesruh, gugur pada Perang Kemerdekaan 1948.
Bpk. Arwan, pensiun tahun 1950.
Bpk. Mingan, tokoh Muhammadiyah pension 1960.
Desa Patikraja :
Ibu Sarinah, pensiun tahun 1950.
Bpk Atam, pensiun tahun 1969.
Ibu Rikem, pensiun tahun 1965
Desa Pegalongan :
Bpk. Nilam, pensiun tahun 1946.
Bpk. Rus Atmosuwito, pensiun tahun 1961.
Bpk. Raslam, tokoh politik.
Bpk. Kartam.
Bpk. Wartam.
Bpk. Sahir Wongsomiharjo.
Desa Sokawera :
Bpk. Nursam.
Desa Kedungrandu :
Bpk. Mohamad.
Bpk. Diran, pensiun tahun 1960.
Bpk. Tiswan, pensiun tahun 1959.
Desa Sidabowa :
Bpk. Kaswadi, seangkatan dengan Bpk Sukardi
Bpk. H. Samsi.
Bpk. Diro Sepuh.
Desa Karanganyar :
Bpk. Kiswan, pensiun tahun 1959.
Desa Sawangan :
Bpk Nirkam, pensiun tahun 1949.
SR V dan SR III berada dalam daereh Onder Distrik Patikraja termasuk dalam Distrik Banyumas, di bawah pengawasan School Opsiner (Pengawas Sekolah).
1. DARI KALANGAN PENDIDIK/GURU
Desa Notog :
Bpk. Sukardi Joyowidagdo, pensiun zaman Belanda.
Bpk. Kesruh, gugur pada Perang Kemerdekaan 1948.
Bpk. Arwan, pensiun tahun 1950.
Bpk. Mingan, tokoh Muhammadiyah pension 1960.
Desa Patikraja :
Ibu Sarinah, pensiun tahun 1950.
Bpk Atam, pensiun tahun 1969.
Ibu Rikem, pensiun tahun 1965
Desa Pegalongan :
Bpk. Nilam, pensiun tahun 1946.
Bpk. Rus Atmosuwito, pensiun tahun 1961.
Bpk. Raslam, tokoh politik.
Bpk. Kartam.
Bpk. Wartam.
Bpk. Sahir Wongsomiharjo.
Desa Sokawera :
Bpk. Nursam.
Desa Kedungrandu :
Bpk. Mohamad.
Bpk. Diran, pensiun tahun 1960.
Bpk. Tiswan, pensiun tahun 1959.
Desa Sidabowa :
Bpk. Kaswadi, seangkatan dengan Bpk Sukardi
Bpk. H. Samsi.
Bpk. Diro Sepuh.
Desa Karanganyar :
Bpk. Kiswan, pensiun tahun 1959.
Desa Sawangan :
Bpk Nirkam, pensiun tahun 1949.
SR V dan SR III berada dalam daereh Onder Distrik Patikraja termasuk dalam Distrik Banyumas, di bawah pengawasan School Opsiner (Pengawas Sekolah).
2. DARI KALANGAN PEGAWAI KOLONIAL BELANDA.
Desa Notog :
Bpk. Harjowarsono, Kepala Kantor Pajak Tanah (Landrete).
Bpk. Kastudjan Harjosewoyo, Mantri Ukur Landrete.
Bpk. Sukirwan, Masinis KA Kl. I pada KA SS.
Bpk. Sangid Sastrorejo, Kondektur SDS.
Bpk. Kidam Wiryosumarto, Kondektur SDS.
Bpk. R. Siswowardoyo, Mantri Ukur Landrete.
Bpk. Parman Rejosuwito Breden, Asistenan pensiun tahun 1955.
Bpk. M. Sena Asistenan, Wedana Belanda tahun 1947 - 1950.
Bpk. Wiryoharsono, Klerek Asistenan pensiun tahun 1954.
Bpk. Ronomiharjo, Kepala Pegadaian pensiun tahun 1954.
Desa Patikraja :
Bpk. Tirtadimeja, Pegawai kehutanan (Boswesen).
Bpk. Wiryoatmojo, Carik Desa.
Bpk. Wiryosukarto, Sekater Pegadaian.
Bpk. Salamun, agen Bank BRI
Desa Pegalongan :
Bpk Kartoatmojo, Kondektur SDS.
Desa Kedungrandu :
Bpk. Ranameja, Pengawas Rel Keretapi SDS (Bandsekower)
Bpk. Singawireja, Serdadu Kompeni.
Bpk. Muryana, Opas Pabrik Tebu.
3. DARI KALANGAN POLISI MILITER :
Desa Notog :
Bpk. Kisworo, Eks. Komandan Kodim dan Ketua DPRD Bms.
Bpk. H. Kartosuwarno, Eks Mayor Purn (Juru Potret Istana).
Bpk. Daryo, Eks Lettu, pensiun Dinas PDK Prop. Jateng.
Bpk. Munandar, Peltu Purn. (Saksi sejarah pertempuran 10 November 1945 Sektor Wonokromo Surabaya.)
Bpk. Dirwoto, Kapt. Purn. Kesdam Diponegoro.
Bpk. Talim, Eks Heiho.
Bpk. Ranusumarto, Agen Polisi Purn pensiun tahun 1960
Desa Patikraja :
Bpk. Masngud Suwandi, Veteran RI, Eks. Tentara Heiho.
Bpk. Mayor Purn Suwargo, Eks PETA.
Bpk. Nasan Purn. Polri. Bpk. Supeno, Eks Kadet AL, Purn Polri.
Bpk. Aksan Purn Polri. Bpk. Tejo Suparyo, Lettu Purn.
Bpk. Saman, Eks Heiho/PETA.
Bpk. Sarjo, Angkatan 45 gugur di Tumiyang Desa
Kedungwuluh Kidul :
Bpk. Mohamad Bahrun, Brigjen Purn. Eks. Dan. Div. IV Diponegoro.
Bpk. Mayoor Taram.
Bpk. Tarsam Hadisudamo, Eks Heiho di Birms
Desa Sawangan :
Bpk. Tukiman, Kapolsek Pertama di Patikraja.
Desa Notog :
Bpk. Harjowarsono, Kepala Kantor Pajak Tanah (Landrete).
Bpk. Kastudjan Harjosewoyo, Mantri Ukur Landrete.
Bpk. Sukirwan, Masinis KA Kl. I pada KA SS.
Bpk. Sangid Sastrorejo, Kondektur SDS.
Bpk. Kidam Wiryosumarto, Kondektur SDS.
Bpk. R. Siswowardoyo, Mantri Ukur Landrete.
Bpk. Parman Rejosuwito Breden, Asistenan pensiun tahun 1955.
Bpk. M. Sena Asistenan, Wedana Belanda tahun 1947 - 1950.
Bpk. Wiryoharsono, Klerek Asistenan pensiun tahun 1954.
Bpk. Ronomiharjo, Kepala Pegadaian pensiun tahun 1954.
Desa Patikraja :
Bpk. Tirtadimeja, Pegawai kehutanan (Boswesen).
Bpk. Wiryoatmojo, Carik Desa.
Bpk. Wiryosukarto, Sekater Pegadaian.
Bpk. Salamun, agen Bank BRI
Desa Pegalongan :
Bpk Kartoatmojo, Kondektur SDS.
Desa Kedungrandu :
Bpk. Ranameja, Pengawas Rel Keretapi SDS (Bandsekower)
Bpk. Singawireja, Serdadu Kompeni.
Bpk. Muryana, Opas Pabrik Tebu.
3. DARI KALANGAN POLISI MILITER :
Desa Notog :
Bpk. Kisworo, Eks. Komandan Kodim dan Ketua DPRD Bms.
Bpk. H. Kartosuwarno, Eks Mayor Purn (Juru Potret Istana).
Bpk. Daryo, Eks Lettu, pensiun Dinas PDK Prop. Jateng.
Bpk. Munandar, Peltu Purn. (Saksi sejarah pertempuran 10 November 1945 Sektor Wonokromo Surabaya.)
Bpk. Dirwoto, Kapt. Purn. Kesdam Diponegoro.
Bpk. Talim, Eks Heiho.
Bpk. Ranusumarto, Agen Polisi Purn pensiun tahun 1960
Desa Patikraja :
Bpk. Masngud Suwandi, Veteran RI, Eks. Tentara Heiho.
Bpk. Mayor Purn Suwargo, Eks PETA.
Bpk. Nasan Purn. Polri. Bpk. Supeno, Eks Kadet AL, Purn Polri.
Bpk. Aksan Purn Polri. Bpk. Tejo Suparyo, Lettu Purn.
Bpk. Saman, Eks Heiho/PETA.
Bpk. Sarjo, Angkatan 45 gugur di Tumiyang Desa
Kedungwuluh Kidul :
Bpk. Mohamad Bahrun, Brigjen Purn. Eks. Dan. Div. IV Diponegoro.
Bpk. Mayoor Taram.
Bpk. Tarsam Hadisudamo, Eks Heiho di Birms
Desa Sawangan :
Bpk. Tukiman, Kapolsek Pertama di Patikraja.
-Pertama untuk mencari keluarga almarhum kebanyakan berada di luar daerah,
-Kedua mungkin terdapat pada Lampiran Nama Veteran di halaman tersendiri
*****
-Kedua mungkin terdapat pada Lampiran Nama Veteran di halaman tersendiri
*****
Langganan:
Postingan (Atom)





































































































